Senin, 03 Februari 2014

The (Right) Choice We Have!



Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna karena akal dan pikirannya. Namun,entah mengapa justru sesama manusia sendiri sulit untuk memahami tiap-tiap pikiran manusia lainnya. Yes, that's about a choice they made! Ketika mereka telah menetapkan satu pilihan briliant kemudian meninggalkannya  hanya untuk pilihan yang jauh berbeda, sulit rasanya untuk bisa dipercaya.

Senin, 27 Januari 2014

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti isyarat yang tak sempat dikirmkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



(Sapardi Djoko Darmono)

Reuni Ikanas, Nostalgia Ala Helmi Yahya



Yang kerudung pink ganggu pemandangan banget -_-



Walaupun sudah resmi mengundurkan diri dari Med***, bukan berarti hasil liputan saya tak bisa di share ke banyak orang ya. Telatnya lumayan lama, guys!  Tapi masih layak untuk dibacalah pokoknya. Lumayan banyak orang beken yang tertangkap kamera saya saat itu, mulai dari Ketua BPK Hadi Purnomo, Ketua Ikanas terpilih, ketua angkatan '81 dan raja kuis Helmi Yahya. Let's  check this one!

Kehadiran artis sekaligus ‘raja kuis’ Helmi Yahya pada perhelatan Reuni Akbar Ikanas (10-11-2013) rupanya menjadi daya tarik tersendiri. Terbukti, booth alumnus angkatannya (angkatan 1981) begitu ramai didatangi pengunjung. Dalam kesempatan tersebut, Helmi pun turut menyumbang suara emasnya, menyanyikan beberapa tembang lawas dan bergoyang bersama para alumnus lainnya.

“Senang sekali rasanya dapat berjumpa kembali dengan sahabat-sahabat yang kocak” tuturnya.  Helmi  sangat bersyukur melihat para alumnus yang kini telah menjadi orang-orang hebat. Hingga kini, Helmi pun masih terkesan dengan bimbingan yang diberikan para dosen hingga membuatnya menjadi seperti sekarang. Pengalamannya menjadi asisten dosen juga menjadi hal manis yang tak akan dilupakan. “Dosen-dosen saya di STAN sangat menginspirasi!” tambahnya

Bagi Helmi Yahya, STAN kini telah berubah. Infrastrukturnya sudah tak seperti dahulu. Tak ada lagi kubangan dan jalan-jalan yang tak terawat. STAN kini lebih nyaman “Dulu, saya harus jalan kaki dari Purnawarman ke Jurangmangu. Sudah jelek (jalan), kubangan dimana-mana, banyak kerbau pula,”

Terakhir, Helmi berpesan kepada para mahasiswa angkatan baru untuk belajar dan mencari peluang dari para alumnus STAN yang telah sukses. Tak lupa pula memanfaatkan masa keemasan selagi masih ada waktu, karena hal tersebut tak akan pernah terulang lagi.

Ketua BPK: Bangga Menjadi Bagian dari Keluarga STAN

Ketua BPK, Hadi Purnomo, saat saya wawancarai pada Reuni Akbar dan Kongres IV Ikanas 
(Do you know who the girl wears yellow shirt? -Me )

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk meliput perhelatan akbar Ikanas STAN. Pada moment special itu, saya pun berhasil ‘memaksa’ Bapak Hadi Purnomo, Ketua BPK sekaligus salah satu alumni STAN yang harum namanya. Mulanya, beliau tak berkenan untuk diwawancari mengingat situasi yang begitu ramai, namun saya dan salah seorang teman berhasil membujuk pria bersahaja ini. Penasaran? Ikuti narasi  singkat saya di bawah ini.

Puluhan tahun lalu, Hadi Purnomo mungkin tak pernah membayangkan bagaimana Ia akan berdiri sebagai orang besar. Namun, pada hari Minggu (10-11-2013), Ia ‘pulang’ ke kampus kebanggaannya sebagai seorang Ketua BPK RI. Walaupun telah menjadi pejabat penting negara, masih segar dalam ingatannya semua momen yang dulu pernah terjadi semasa kuliah. Bagi Hadi, ajang semacam ini menjadi satu agenda penting yang patut untuk tak dilewatkan. “Saya senang ada event semacam ini, bikin awet muda karena banyak tertawa dan berkomunikasi dengan kawan lama” ujarnya. “Acara ini juga dapat menghilangkan jurang pemisah diantara setiap angkatan, baik di antara angkatan yang sudah sepuh maupun angkatan yang baru-baru” tambahnya lagi.

Hadi Purnomo pun berharap pada semua alumnus STAN untuk selalu menjunjung tinggi persatuan. Ikanas harus tetap bersatu dimanapun berada. Tak boleh memutus silahturahmi, senantiasa rendah hati, dan siap mengalah untuk menang.

Ketika disinggung mengenai kasus-kasus yang menjerat para alumnus stan, beliau pun berpesan pada segenap keluarga besar STAN untuk tidak terpengaruh akan hal itu. “Apa yang harus ditakuti (isu-isu negatif di media)? Semua hal pasti ada sisi buruknya. Alumnus yang terjerat kasus hanya kecil persentasenya dibanding mereka-mereka yang sukses!” jelas Hadi.

 “Tak ada alasan untuk tidak bangga pada kampus ini! Kampus ini adalah kampus pencetak orang-orang hebat. Lulusan-lulusannya menempati posisi penting baik di lingkungan birokrasi maupun swasta. Baik di BPK, KPK, OJK, BEI, maupun stasiun TV swasta, semuanya ada anak STAN. STAN ada dimana mana jadi jangan pernah ragu untuk bangga dengan STAN!” pungkasnya.
         


Minggu, 26 Januari 2014

Prestise..


Malam ini, saya sempatkan untuk melihat blog dua teman seperjuangan pada saat bertempur di medan perang LKTI UIN Syarif Hidayatullah 2010. Entah karena faktor keberuntungan atau apa, saat itu saya mendapat posisi kedua dari sepuluh finalis yang ada pada saat itu. Lantas bagaimana dengan dua teman saya tadi? Mereka tak masuk di jajaran tiga besar. Yap, itu empat tahun yang lalu! Kini, setelah kami memilih jalan masing-masing untuk meniti cita-cita, semua berubah seratus delapan puluh derajat. Satu dari teman saya telah berhasil merebut gelar juara LKTI mahasiswa pada beberapa kesempatan yang lalu. Ia bahkan menjadi delegasi Indonesia di Belanda dalam sebuah konferensi mahasiswa internasional. Kawan berikutnya, lebih mantap lagi! Ia berhasil menjadi best planning dalam sebuah kompetisi paper mahasiswa yang diadakan salah satu vendor ternama. 

Rasa-rasanya, senang bercampur haru melihat kesuksesan mereka. Namun entah mengapa saya iri denga keberhasilan mereka. Saya vakum. Lama dan ujungnya sulit bernalar. Tahun ini sejatinya adalah tahun yang baru bagi saya untuk menjadi mahasiswa (baca: calon punggawa keuangan negara). Sedari awal saya sempat berpikir untuk terus melebarkan sayap di bidang tersebut, namun entah kenapa setumpuk hal harus terlebih dahulu dijalani sebelum jari-jari ini bisa bebas menari di keyboard. Siklus akuntansi, kesan-kesini, ini-itu, dan masih banyak lagi. 

sejatinya, semua hal di atas bagian dari trade off yang sudah sejak SMA dijalankan begitu saja. Tapi karena tittle-nya sudah kuliah, ya dituntut untuk lebih bijaksana lah sama waktu. 

Yahh,walaupun  untuk ukuran mahasiswa, ikut lomba-lomba menulis itu penghasilan. Coba kalkulasikan hal berikut: seorang mahasiswa ikut lomba menulis berhadiah uang lima juta rupiah. Jika ia ikut 10 kali lomba dengan total hadiah yang sama dan ia menang, sudah berapa uang yang mengalir ke tabungannya? (malas menghitungnya bukan)

Rezeki memang tak melulu datang dari sana, tapi prestise yang diraih kedua teman saya entah kenapa masih terbayang jelas di kepala ini. So, tinggal komitmen berjalan yang bisa diajak kompromi untuk mendapatkannya. How about me now?